Tokoh Muda Dorong Regenerasi

JAKARTA (SINDO) – Kalang- an tokoh muda dari berbagai partai politik (parpol) mendorong proses regenerasi kepemimpinan nasional.

Mereka tidak ingin jabatan strategis di lembaga eksekutif dan legislatif didominasi golongan tua. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyatakan, proses regenerasi dari pemimpin tua ke pemimpin muda harus progresif dan visioner.Menurut dia, dibutuhkannya pemimpin muda pada Pemilu 2009 semata-mata untuk mendorong kanalisasi percepatan regenerasi kepemimpinan di semua jabatan penting.

Karena itu, tokoh muda harus benar-benar siap agar regenerasi itu benar-benar terwujud. ”Saya yang baru menjadi menteri saja sudah sangat sibuk dengan agenda. Jadi, saya tidak bisa membayangkan jika usia presiden di atas 60 tahun,” kata menteri asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dalam diskusi ”RUU Pilpres dan Peluang Kaum Muda dalam Pemilu 2009” di Jakarta Media Centre kemarin.

Menurut dia, kesiapan kaum muda tidak hanya wacana, tetapi harus diikuti langkah yang bisa menciptakan arus kuat agar pemuda bisa tampil pada pemilu nanti. ”Mari yang mudamuda, dari aktivis, silakan masuk ke sistem dan berjuang memperbaiki bangsa ini dari dalam,”katanya.

Dalam diskusi itu,hadir tokoh muda dari Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP) yang juga sebagai salah satu Ketua DPP partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait, peneliti CSIS Indra J Piliang,Wakil Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi, dan politisi muda dari PKS Mahfudz Siddiq.

Menurut Maruarar, sebagai salah satu tokoh muda PDIP, dia mengaku terus bekerja keras karena di internal partai juga masih banyak tokoh-tokoh tua. Tetapi, dia tetap menggunakan caracara yang etis dalam memperebutkan suatu jabatan tertentu dalam partai ataupun di legislatif.

”Satu hal yang penting adalah etika politik.Bagaimana mau mencari pemimpin nasional jika tidak dengan etika politik,” katanya. Tokoh muda, kata dia, harus berani menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat yang akan memilihnya.”Saya akan selalu bekerja keras dan siap bertarung dengan fair.

Karena kaum muda tidak didesain untuk minta dikasihani, jadi tolong jangan berpikir yang muda harus dikasihani dan dikasih kesempatan. Kita mesti bekerja keras dan membuktikan itu kepada rakyat sebagai pemilih,” tandasnya.

Di tempat terpisah,Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai tokoh muda memiliki kelebihan yang tidak dipunyai para pendahulunya, seperti ide pembaruan, kreativitas, dan pikiran alternatif yang bisa menjadi solusi bagi persoalan bangsa. ”Itu kelebihan tokoh muda yang tidak ada pada diri tokoh sebelumnya,” katanya. (rahmat sahid/rd kandi)

Sumber :www.seputar-indonesia.com

Satu Tanggapan

  1. Pemimpin seperti apa?

    Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    salam hangat

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.